Software – software yang dapat mendukung psikologi.

Software – software yang dapat mendukung psikologi.

  • Software Psikologi – (Software Koreksi Test, Software Koreksi Test EPPS, dan Software Koreksi Test PAPI)
  • Software Psikotest – Tes WPT (The Wonderlic Personnel Test : Tes WPT (The Wonderlic Personnel Test) adalah alat uji atas kemampuan kognitif umum.
  • Software Psikogram : Psikogram adalah laporan hasil tes psikologi secara keseluruhan dalam proses assessment.

( Inilah beberapa contoh software yang membantu dalam dunia psikologi 🙂 )

 

Artikel ICT

Jejaring Sosial yang Berkaitan dengan Psikologis Anak Muda Zaman Sekarang

Menurut enslikopedi terbersar didunia, Wikipedia; Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.

 Menurut enslikopedi terbersar didunia, Wikipedia; Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang dijalin dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilaivisiidetemanketurunan, dll.

Analisis jaringan jejaring sosial memandang hubungan sosial sebagai simpul dan ikatan. Simpul adalah aktor individu di dalam jaringan, sedangkan ikatan adalah hubungan antar aktor tersebut. Bisa terdapat banyak jenis ikatan antar simpul. Penelitian dalam berbagai bidang akademik telah menunjukkan bahwa jaringan jejaring sosial beroperasi pada banyak tingkatan, mulai dari keluarga hingga negara, dan memegang peranan penting dalam menentukan cara memecahkan masalah, menjalankan organisasi, serta derajat keberhasilan seorang individu dalam mencapai tujuannya.

Dalam bentuk yang paling sederhana, suatu jaringan jejaring sosial adalah peta semua ikatan yang relevan antar simpul yang dikaji. Jaringan tersebut dapat pula digunakan untuk menentukan modal sosial aktor individu. Konsep ini sering digambarkan dalam diagram jaringan sosial yang mewujudkan simpul sebagai titik dan ikatan sebagai garis penghubungnya.

Menurut enslikopedi terbersar didunia, Wikipedia; Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasatetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Berikut beberapa fakta unik seputar remaja dan jejaring sosial ;

  • 53 persen remaja mengikutsertakan email asli mereka ketika mendaftarkan diri ke suatu jejaring sosial
  • 20 persen remaja mengikutsertakan nomor telepon pribadi mereka untuk mendaftar di suatu jejaring sosial
  • Twitter dan Tumblr adalah wajah baru dari komunikasi online
  • Di tahun 2012 lalu, tercatat pengaksesan jejaring sosial meningkat sebanyak 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya
  • Di tahun 2011 silam, aktivitas di situs-situs jejaring sosial yang dilakukan oleh pengguna berumur 15 sampai 24 tahun meningkat dari 79,4 persen di tahun 2010 menjadi 84,4 persen di tahun 2011.
  • Tercatat sekitar 300 juta foto yang diunggah ke Facebook setiap harinya
  • Sekitar 150 juta gambar yang dibagikan (share) di Snapchat setiap harinya
  • Lebih dari 1 miliar foto yang diunggah ke Instagram sejak bulan Mei 2012 silam sampai sekarang
  • Pada saat malam perayaan Tahun Baru 2012 silam, ada lebih dari 1,1 miliar foto diunggah ke berbagai jejaring sosial
  • Pengguna dengan rentang umur 13 sampai 17 tahun mengirimkan lebih dari 6 kali pesan pendek dengan menggunakan aplikasi chatting atau SMS dalam satu jam
  • 43 persen remaja membeli perangkat pintar hanya untuk chatting dan texting
  • 49 persen remaja yang memiliki account di situs jejaring sosial lebih suka melakukan texting daripada melakukan panggilan langsung
  • 76 persen remaja wanita lebih sering berinteraksi di jejaring sosial dengan menggunakan smartphone dan tablet dibandingkan pria (72 persen)
  • 97 persen remaja pria lebih sering mengakses internet dibandingkan wanita (93 persen)
  • Lebih dari 4 miliar video di YouTube ditonton setiap harinya secara global
  • 64 persen remaja lebih sering mendengarkan lagu di YouTube daripada di radio (56 persen) atau melalui CD/kaset (50 persen)
  • Rata-rata remaja miliki lebih dari 130 teman di Facebook yang beberapa di antaranya justru mereka tidak mengenalnya
  • Remaja lebih sering mengakses jejaring sosial dibandingkan dengan orang dewasa
  • 23 persen pengguna Facebook remaja mengakses situs tersebut hanya untuk memeriksa account mereka
  • Ada lebih dari 575 Like dan 81 komentar dibubuhkan di Instagram setiap detiknya
  • Lebih dari 450 juta twit yang dikirimkan melalui Twitter setiap harinya
  • Dari seluruh pengguna internet di dunia, 93 persen menggunakan Facebook dan 32 persen menggunakan Twitter setiap hari

Sumber Phonesheriff, PeekTab, Techcrunch, ComScrore, PEWinternet, Royal.Pingdo, SocialNews Daily, Websekids, Nielsen, Slideshare, Mashable, Mylife, HuffingtonPost, Xperian, Marketingcharts, Google,

 

Berikut beberapa kasus yang terjadi akibat jejaring sosial ;

  1. Rebecca Sedwick, 12 Tahun Ternyata Rebecca telah diteror selama lebih dari setahun oleh gadis-gadis yang pernah menjadi temannya.  Rebecca berusaha menghindar, namun kata-kata kasar yang selalu mampir ke akun sosial medianya mendorong gadis itu untuk mengakhiri hidupnya. Dia kemudian memutuskan untuk melompat dari menara pabrik semen yang telah ditinggalkan di dekat rumahnya di Lakeland.
  2. Daniel Perry, 17 Tahun Daniel Perry, dari Dunfermline, ditengarai telah menjadi korban scam, di mana seorang pengguna internet berusaha memikatnya untuk melakukan sebuah chatting online dan kemudian memerasnya.  Menurut hasil investigasi, beberapa bulan sebelum kematian Daniel, ia mulai aktif chatting melalui website Skype dengan seorang gadis yang berusia tak jauh beda dari dirinya. Gadis itu kemudian berusaha memerasnya dan mengancam akan menyebarkan bukti percakapan mereka ke teman dan keluarganya. Karena merasa tidak tahan, Daniel pun akhirnya memutuskan untuk bunuh diri .
  3.  Kasus Rektor IKIP Mataram. Rektor IKIP Mataram, Prof. Said Ruhpina melaporkan salah satu dosen yang berkerja di universitasnya kepada polisi. Dosen tersebut dinilai telah menghina sang rektor melalui facebook dengan identitas yang dipalsukan. Atas pelaporannya tersebut sang dosen dikenai undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
  4.  Kasus Farhat Abbas. Kicauan Farhat Abbas yang menyerang etnis Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berbuntut panjang. Dalam akun twitternya @farhatabbaslaw, pengacara tersebut menulis “Ahok sana sini plat pribadi B 2 DKI dijual polisi ke org Umum katanya ! Dasar Ahok plat aja diributin ! Apapun plat nya tetap C***!”. Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Anton Medan melaporkan suami Nia Daniati itu ke Polda Metro Jaya.

Kacamata Psikologis Terhadap Dampak Jejaring Sosial Pada Remaja ;

PENGARUH NEGATIF INTERNET PADA PERKEMBANGAN REMAJA

1. Dampak pada perkembangan fisik

Interaksi remaja dengan internet banyak mengurangi aktivitas gerak karena konsep dari internet adalah memudahkan kehidupan manusia sehingga akan banyak mengurangi dalam bergerak. Saat ini dalam beraktivitas para remaja sudah banyak menggunakan perantara internet.  Hal tersebut menyebabkan perkembangan fisik remaja yang terlalu dipapar oleh internet banyak mengalami physical decline. Contohnya problem visual seperti kelelahan mata, sakit kepala bahkan penglihatan kabur karena remaja lebih rentan daripada orang dewasa terhadap cahaya dan radiasi yang dipancarkan dari perangkat internet. Selain itu obesitas juga kasus yang sering terjadi akibat berkurangnya aktivitas fisik. Obesitas pada remaja dapat memicu terjadinya ketidakseimbangan hormonal dan metabolismE yang akan menggiring terjadinya serangan jantung premature.

2. Dampak pada perkembangan emosi dan sosial

Pada remaja, perkembangan emosi tidak lepas dari interaksinya dengan lingkungan sosial. Bila lingkungan sosial yang ada di sekeliling remaja berupa lingkungan sosial yang “virtual” dan tidak pada kenyataannya, maka perkembangan emosi remaja juga cenderung tidak adekuat karena umpan balik dari lingkungan virtual dapat diatur sesuai kehendak individu sedangkan umpanbalik dari lingkungan nyata belum tentu sesuai dengan kehendak individu. Sehingga individu harus mengembangkan keterampilan sosial dan emosi untuk mengatasinya.

Saat ini telah dikembangkan berbagai jejaring sosial yang dapat mendukung terciptanya suatu lingkungan sosial “virtual”. Pada remaja, pengaruh negatif dari jejaring sosial ini dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut :

a. Hilangnya privasi. Tidak seperti orang dewasa, remaja banyak yang cenderung mencantumkan identitas real dalam jejaring sosial yang mengakibatkan mereka dapat rentan terhadap hilangnya privasi dan kemungkinan abuse terhadap foto atau video yang kurang “appropriate” yang mereka posting didalam jejaring sosialnya.

b. Cyber-Bullying. Para remaja belum cukup matang untuk memahami dampak dari informasi yang dimunculkan dalam jejaring sosial sehingga banyak terjadi kasus perkelahian yang dimulai dari komentar atau status namun dianggap ejekan (bullying) melalui jejaring sosial.

c. Stranger-Danger. Para remaja sering masih kurang “aware” terhadap bahaya dari orang yang tak dikenal atau yang mengenal mereka namun memalsukan identitasnya dalam jejaring sosial. Menurut Pew Research Center, “32% dari remaja online telah dihubungi oleh seseorang yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan 7% dari remaja online tersebut mengatakan mereka merasa takut atau tidak nyaman sebagai akibat dari kontak dengan orang yang tak dikenal secara online. Di Indonesia bahkan kasus remaja yang diculik dan kemudian diperkosa oleh orang tak dikenal melalui jejaring sosial sudah banyak terjadi.

d. Cyber-Stalking. Kejujuran remaja dalam jejaring sosial seperti melakukan posting tentang bagaimana rumah mereka, dimana sekolah mereka, menyebabkan orang asing yang berniat jahat sangat mudah untuk membuntuti dan bahkan membujuk mereka untuk bertemu muka dan akhirnya bisa melakukan tindakan kejahatan kepada mereka.

Beberapa Interaksi remaja dengan internet juga dapat berdampak pada perkembangan aspek emosi yang tidak adekuat. Bila internet digunakan tanpa control yang baik, maka akan menyebabkan tingginya resiko untuk menjadi ketergantungan (addiction). Beberapa kondisi emosi yang memungkinkan untuk berkembang menjadi suatu addiction terhadap internet, antara lain :

a. Kecemasan, bila internet digunakan untuk mengalihkan perhatian dari kecemasan maka justru akan beresiko individu untuk tidak mengatasi kecemasannya dan setiap saat mengalihkannya pada komputer yang dapat mengakibatkan kecanduan.

 

b. Depresi, internet dapat mengalihkan sementara dari depresi (terutama banyak website yang memberikan informasi tentang mengatasi depresi) namun bila digunakan tanpa kontrol justru tanpa disadari akan makin menyebabkan isolasi dari lingkungan yang akan menambah depresi.

Selain aspek emosi yang dapat menimbulkan kecenderungan addiction, internet dapat berdampak pada perilaku kurang sabar pada remaja karena internet cenderung membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan instant sehingga secara emosi para remaja menjadi tidak terbiasa untuk bersabar.

3. Dampak pada perkembangan inteligensi

Beberapa ahli mengulas tentang pengaruh internet dalam perkembangan inteligensi karena internet sudah tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah ataupun di lingkungan sekolah. Remaja saat ini mungkin menggunakan otak mereka jauh berbeda dengan remaja di generasi sebelumnya. Temuan bisa berarti bahwa teknik pengajaran saat ini dan metode pengujian belum tentu efektif dalam mengestimasi kecerdasan mereka. Patricia Greenfield menelaah lebih dari 50 studi tentang dampak internet terhadap remaja. Dia menemukan bahwa media seperti internet dapat membatasi beberapa aspek keterampilan mental mereka, tetapi juga membantu meningkatkan mereka dengan cara lain. Dampak negatif dalam inteligensi dibuktikan oleh Lady Susan Greenfield, ahli syaraf dan profesor farmakologi sinaptik pada Lincoln College, Oxford, dan direktur Royal Institution. Beliau berpendapat bahwa remaja yang menggunakan internet secara berlebihan akan memiliki kecenderungan untuk mengalami hambatan dalam rentang perhatian, kebutuhan melakukan stimulasi secara segera (tidak sabar) , dan “rasa kebingungan dalam identitas.” Selain itu internet juga berdampak pada penalaran kritis karena hampir semua informasi telah tersedia sehingga para remaja menjadi kurang terampil dan cenderung untuk berkosentrasi hanya pada satu hal untuk jangka waktu yang lama dan menyulitkan remaja untuk memecahkan masalah yang membutuhkan waktu pendek dan kompleks.

 

 

4. Dampak pada perkembangan moral

Dampak dalam perkembangan moral terutama terjadi karena pemaparan pada situs-situs yang banyak mengandung unsur pornografi dan kekerasan. Banyak kasus di Indonesia tentang kekerasan dan kejahatan seksual pada remaja yang baik pelaku maupun korbannya adalah remaja akibat eksposure terhadap situs-situs internet yang tidak dikontrol oleh orangtua maupun orang dewasa lain yang bertanggungjawab terhadap perkembangan remaja di Indonesia. Dampak negatif dalam perkembangan moral juga dapat terjadi karena adanya kesempatan untuk mengunduh isi situs tanpa ijin. Banyak orangtua yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak mencuri bahkan mungkin memberikan hukuman bila anaknya melakukan tindak pencurian. Namun bila hal tersebut dilakukan dengan perangkat internet (contohnya mengunduh secara illegal baik lagu atau film dengan berbagai cara), maka punishment dari orangtua sering tidak diterapkan. Secara umum efek internet terhadap perkembangan moral diulas oleh Susan Willard dari University of Oregon melalui 4 faktor utama yang muncul dalam interaksi remaja dengan internet, yakni :

a. Lack of Affective Feedback and Remoteness from Harm. Dalam dunia nyata, suatu perilaku memiliki konsekuensi yang akan dirasakan langsung. Misalkan pada saat seorang remaja bertemu remaja lain dan melontarkan komentar “kamu jelek”; maka remaja yang mengejek akan langsung menerima konsekuensi mulai dari jawaban “tidak aku tidak jelek” sampai dengan perlawanan fisik bila remaja yang diejeknya merasa tersinggung. Melalui internet, perilaku negatif seperti diatas tidak akan secara langsung dirasakan dampaknya. Kondisi ini dapat menyebabkan remaja mengembangkan perilaku moral yang tidak adekuat karena konsekuensi dari perilakunya sering tidak dirasakan secara langsung.

b. Reduced Fear of Risk of Detection and Punishment. Interaksi melalui internet dapat dilakukan secara anonim atau dengan memalsukan identitas. Hal ini menyebabkan individu dapat menghindar dari hukuman atau tanggungjawab atas suatu perilaku yang dilakukannya.

c. New Environment Means New Rules. Dunia maya melalui internet tampak seperti sebuah lingkungan baru yang berbeda dengan lingkungan nyata disekitar remaja. Oleh karena itu remaja sering beranggapan bahwa di dunia maya mereka boleh menerapkan aturan baru yang berbeda dengan aturan di dunia nyata yang sering bertentangan dengan dunia nyata seperti saling mengejek dan terkadang membuat lelucon yang tanpa disadari bisa menjadi suatu penghinaan terhadap remaja yang lain.

d. Perceptions of Social Injustice and Corruption. Adanya internet menyebabkan individu yang merasa ketidakadilan merasa berhak untuk memberikan perlawanan melalui internet. Mulai dari perilaku menentang dengan mengemukakan pendapat, hacking sampai dengan membongkar secara umum hal-hal yang dianggap rahasia namun potensial menimbulkan ketidakadilan seperti kasus Wikileaks yang marak akhir-akhir ini. Oleh karena itu individu berpotensi untuk melakukan perlawanan yang dalam dunia nyata membutuhkan suatu aturan-aturan untuk mengemukakan ketidaksetujuannya.

PENGARUH POSITIF INTERNET PADA PERKEMBANGAN REMAJA

Disamping berbagai dampak negatif dari internet terhadap perkembangan remaja, ada pula dampak-dampak positif dari internet. Secara umum internet mendorong tumbuhnya “rasa mampu” dan membantu remaja sebagai “alat” untuk memecahkan masalah (problem solving). Selain itu internet juga sangat membantu remaja untuk mendapatkan informasi yang luas. Permainan dengan menggunakan internet berupa perangkat games juga memberikan kesempatan pada remaja untuk mengenal prinsip dasar dalam teamwork dan berbagi serta melatih eye-hand coordination. Namun secara mendetil dapat dijabarkan melalui pengaruhnya terhadap berbagai aspek perkembangan sebagai berikut :

1. Dampak pada perkembangan fisik.

Salah satu dampak bila internet digunakan dengan tepat adalah adanya kemungkinan untuk melakukan aktivitas fisik tanpa dibatasi oleh waktu dan dapat dilakukan di rumah. Seperti game yang menggunakan dancing pad, dapat dilakukan setiap saat diwaktu yang senggang. Selain itu informasi tentang kesehatan juga memberikan dukungan terhadap gaya hidup yang sehat dan pencegahan terhadap penyakit. Namun manfaat ini tidak langsung bisa didapatkan oleh remaja karena keterbatasan mereka dalam memahami dan menginterpretasikan informasi kesehatan yang didapatkannya. Oleh karena itu sangat dibutuhkan pendampingan dari orang dewasa atau orangtua agar remaja bisa menginterpretasikan informasi yang benar tentang masalah kesehatan yang dapat mendukung perkembangan fisiknya.

2. Dampak pada perkembangan sosial dan emosi

Banyak remaja mengembangkan sense of power and accomplishment bila mereka mampu menggunakan internet. Bila orang dewasa cenderung melakukan interaksi yang pertamakali dengan internet karena alasan pekerjaan, maka umumnya remaja memulainya karena alasan bermain. Namun dari bermain dapat pula dikembangkan kemampuan kreatif, interaksi yang baik dengan teman yang lain, mengembangkan kemampuan komunikasi, bahkan memperkaya kemampuan berbahasa karena besarnya kemungkinan untuk melakukan kontak dengan remaja dari belahan bumi yang berbeda. Perkembangan sosial dan emosi yang mungkin didukung oleh adanya jejaring sosial melalui internet adalah :

a. Relationship building & Cultural Awareness. Situs jejaring sosial jaringan memungkinkan remaja untuk bertemu teman baru dari Negara lain , membantu mereka menjadi lebih duniawi dan peka terhadap perbedaan budaya. Para remaja juga dapat tetap berhubungan atau membina hubungan kembali dengan teman-teman masa lalu mereka yang mungkin sudah tinggal jauh dari lingkungan mereka.

b. Identity. Para remaja dapat berbagi minat dengan remaja lain, bergabung dengan kelompok, mengembangkan rasa independent, dan bisa terlibat dalam ekspresi diri yang positif dengan mempersonalisasi halaman profil dan berpartisipasi dalam diskusi tentang topik-topik yang menarik perhatian mereka. Hal-hal tersebut sangat dibutuhkan dalam membangun “sense of identity” dalam diri mereka.

c. Self-Esteem. Berkaitan dengan pembentukan identitas di atas, jaringan sosial dapat membantu membangun harga diri dan meningkatkan kepercayaan diri.

d. Battling Depression. Adanya dukungan sosial dapat sangat membantu untuk mengatasi depresi terutama pada para remaja. Tamaryn Stevens seorang remaja 17 tahun didiagnosis dengan penyakit ginjal ketika dia berumur 10 tahun dan kemudian menjalani operasi transplantasi. Tamaryn menggunakan jaringan sosial bernama LiveWIRE setiap hari untuk chatting dengan teman online, memposting pemikiran dan bahkan meng-upload puisi ungkapan hatinya. Dia mengatakan LiveWIRE “sangat bermanfaat … Apalagi bila dalam situasi sosial yang nyata seperti sekolah anda merasa sangat tidak berharga pada hari itu. Anda pulang dan Anda pergi ke LiveWIRE dan ada orang untuk diajak bicara dan itu membuat hari Anda yang jauh lebih baik.

3. Dampak pada perkembangan inteligensi

Greenfield yang telah menelaah lebih dari 50 penelitian tentang penggunaan internet dalam perkembangan inteligensi remaja, menunjukkan adanya peningkatan dalam visual reasoning. Hal tersebut meliputi bagaimana individu mengindera secara visual dan memprosesnya hingga mencapai suatu kesimpulan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang mendapatkan pelatihan berupa simulasi melalui komputer akan menunjukkan performa yang lebih baik dalam prakteknya di dunia nyata dibandingkan individu yang tidak melakukan simulasi. Remaja zaman sekarang juga lebih baik dalam melakukan multitasking dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini tampaknya berkaitan dengan meningkatkan informasi visual yang harus diprosesnya pada saat bersamaan seperti saat mereka berinteraksi dengan internet.

4. Dampak pada perkembangan moral

Beberapa aksi kemanusiaan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa besar seperti bencana alam dapat diakses langsung oleh masyarakat luas, termasuk juga remaja pengguna internet. Aksi tersebut sering memicu tumbuhnya solidaritas untuk merasakan bahkan membantu individu lain yang sedang tertimpa musibah. Hal tersebut dapat mendorong perkembangan moral yang adekuat.

KESIMPULAN

Dengan ini dapat disimpulkan bahwa jejaring sosial, memiliki dampak positif dan negative terhadap psikologis seorang remaja, dengan cukup banyaknya kasus yang telah terjadi akibat jejaring sosial, tentunya perlu kerjasama juga dari orangtua dan masyarakat untuk pengendalian terhadap perilaku anak-anak terhadap jejaring sosial, dari yang telah diuraikan ternyata dampak negative lebih dominan walaupun ada juga dampak positifnya. Jadi pesan, untuk anak muda sekarang, cerdaslah untuk menentukan sikap kita, karena sikap kitalah yang akan menentukan kita kedepannya bagaimana. Salam semangat muda.

Pengalaman Mengenai TIK

Pengalaman yang paling saya ingat dan yang paling sangat berkesan yang ada kaitannya dengan TIK adalah pada waktu saya duduk dibangku sekolah dasar kelas 3 SD, pada waktu itu adalah pertama kalinya saya mendapatkan pelajaran tentang menggambar pada progran paint. Pada waktu itu saya benar-benar masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa mengenai cara bermain komputer, namun pada saat itu saya sangat merasa bersemangat dan senang sekali mendapatkan pelajaran pertama saya, yaitu menggambar di program paint. Saya ingat betul apa gambar pertama yang saya buat, yaitu saya menggambar pemandangan menggunakan pensilnya, walaupun dengan perjuanagan yang panjang dan terseret-seret dalam mengerjakannya saya tetap terus berjuang untuk menyelesaikan gambar saya, dan akhirnya gambar itupun jadi lalu di save dan guru saya menyuruhnya untuk dijadikan background pada layar desktop komputer saya. Saya sangatlah senang pada waktu itu karena didepan layar komputer saya ada hasil karya saya sendiri yang saya buat dengan penuh perjuangan, karena saya masih belajar menggunakan komputer.

Pengalaman berikutnya adalah sewaktu saya duduk di bangku kelas 1 SMP, pada waktu itu saya mendapatkan pelajaran tentang bagaimana memasang peralatan komputer yang telah dipereteli atau bisa disebut terlepas semua. Pada waktu itu kami dibagi menjadi beberapa kelompok. kami semua harus menyatu-nyatukan perangkat komputer tersebut dengan panduan buku dan sedikit instruksi dari guru kami, kalau tidak salah waktu itu perangkat yang sudah diperetelinya adalah CPU. Lalu dengan bersemangatnya kelompok sayapun tiba mengambil bagian untuk memasangkan perangkat tersebut, pada waktu itu yang terbersit dipikiran saya adalah saya sangat kebingungan, teman saya juga sama, untungnya kami tidak mudah meneyerah dalam melaksanakan tugas kami. Meskipun kami kebingungan dalam memasangkan alat tersebut, kami tetap dapat menyelesaikan tugas kami tepat pada waktunya, dan nilai yang kami dapatpun cukup baik. Pada saat itu saya dan teman-teman saya merasa sangt bangga dan senang dapat menyelesaikan tugas dengan baik.

Perkenalan

Hello, nama saya Tiara Ananda Putri saya lahir di Bandung 02 Juni 1995 sekarang saya sedang menuntut ilmu di Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengambil program studi Psikologi.  Hobi saya adalah membaca buku, cita-cita saya tentunya ingin menjadi seorang Psikolog.